“Guys, jangan sampai telat! Pintu masuk katanya dibuka jam empat!”
Pesan dari Rani muncul di grup chat kami sejak pagi. Aku yang sedang sibuk memilih baju langsung tertawa. Entah kenapa, kalau sudah menyangkut konser, persiapan kami bisa lebih serius daripada mau pergi kondangan.
Hari itu kami berempat memang sudah berencana menghadiri konser penyanyi favorit kami. Tiket sudah dibeli sejak beberapa bulan lalu, bahkan sejak tiket pertama kali dijual. Jadi, tentu saja tidak boleh ada drama. Apalagi drama telat.
Sejak pagi kami sudah sibuk mempersiapkan berbagai hal. Tiket digital, power bank, uang tunai, tisu, air minum, kipas kecil, sampai ponsel dengan kapasitas penyimpanan yang cukup untuk merekam banyak video.
Namanya juga konser. Masa iya pulang cuma membawa kenangan?
“Jangan lupa cek tiket masing-masing!” kataku mengingatkan.
“Aman!”
“Power bank?”
“Aman!”
“Air minum?”
“Aman!”
Aku kemudian mengecek tas sendiri. Ada satu barang yang juga tidak boleh ketinggalan. #InstoDryEyes.
Sebenarnya, aku baru membeli produk itu beberapa hari sebelumnya. Waktu itu aku sedang menyelesaikan pekerjaan di depan laptop. Entah kenapa, hari itu pekerjaanku cukup banyak sehingga membuatku menatap layar berjam-jam. Setelah selesai, mataku terasa agak kering, sepet, dan sedikit tidak nyaman.
Awalnya kuanggap biasa. “Paling karena kelamaan lihat laptop,” pikirku.
Namun, rasa tidak nyaman itu beberapa kali muncul lagi keesokan harinya. Aku pun mulai berpikir untuk menyediakan obat tetes mata di rumah, sekadar untuk berjaga-jaga ketika mata terasa kering dan membutuhkan bantuan agar kembali nyaman.
Pas kebetulan ke supermarket nyari beberapa keperluan, kusempatkan untuk melihat rak kesehatan, dan ada satu kotak INSTO DRY EYES. Aku langsung teringat kondisi mataku beberapa hari sebelumnya. Tanpa berpikir lama kuputuskan untuk membawanya bersama belanjaanku yang lain menuju kasir. Sejak saat itu, produk kecil dengan kotak manis berwarna biru muda tersebut kusimpan di rumah.
Nah, karena hari ini kami akan pergi ke konser dan kemungkinan besar menghabiskan waktu cukup lama di luar ruangan, aku kembali memasukkannya ke dalam tas. Buat persiapan saja. Ibaratnya sedia payung sebelum kamu eh sebelum hujan maksudnya.
Antre Panjang, Angin, dan Debu
Perjalanan menuju venue cukup jauh. Belum sampai di tujuan aku sudah membayangkan, di sana kami akan mengantre, berada di tengah keramaian, terkena angin dan debu, serta kemungkinan cukup lama menatap layar ponsel untuk mengambil foto dan video.
Akhirnya kami tiba di lokasi konser. Seperti yang kubayangkan, antreannya sudah panjang sekali.
“Ya ampun, sebanyak ini?”
Aku melihat barisan orang yang seolah tidak ada ujungnya.
Kami akhirnya ikut mengantre sambil sesekali bercanda dan berfoto.
Waktu berjalan cukup lambat. Matahari masih terasa panas, sementara angin sesekali berembus membawa debu dari sekitar area venue yang terbuka. Mataku mulai terasa agak sepet. Awalnya hanya sedikit.
Aku berkedip beberapa kali lalu kembali mengobrol.
“Kayaknya mataku kena debu,” kataku kepada teman di sebelah.
“Jangan diucek.”
“Iya.”
Aku mengangguk.
Aku memang hampir saja mengucek mata, tetapi mengurungkan niat karena khawatir justru membuatnya semakin tidak nyaman. Jadi kutahan saja sebisaku.
Setelah cukup lama mengantre, akhirnya kami berhasil masuk ke area konser. Rasa lelah seketika hilang. Lampu-lampu panggung sudah menyala. Layar LED berukuran besar berada tepat di depan kami. Suasana semakin ramai dan orang-orang mulai memenuhi area penonton. Kami pun sibuk mencari posisi yang paling nyaman.
“Dari sini kelihatan jelas!”
“Semoga aja ntar ngga ada yang nutupin!”
Kami tertawa.
Tidak lama lagi konser akan dimulai.
Sensasi Perih Saat Konser Dimulai
Lampu venue mulai diredupkan. Suara riuh penonton semakin keras. Aku merasakan jantungku berdebar. Akhirnya setelah menunggu berbulan-bulan, hari itu tiba juga. Begitu intro musik mulai terdengar, semua orang berteriak. Aku dan teman-temanku pun ikut dalam euforia tersebut sambil mengangkat ponsel.
Dan kemudian...
Idola kami muncul di atas panggung.
“AAAAA!”
Kami berempat langsung heboh. Aku bahkan sampai lupa kalau beberapa menit sebelumnya mata terasa sedikit tidak nyaman.
Lagu pertama dimulai, aku merekam.
Lagu kedua, rekam lagi.
Lagu ketiga, masih kurekam dan sesekali aku melihat layar LED, kemudian kembali melihat panggung.
Namun setelah beberapa lagu, rasa tidak nyaman pada mata mulai terasa lagi. Kali ini lebih jelas dan perih. Aku berkedip berkali-kali kemudian memejamkan mata beberapa detik.
“Kenapa?” tanya Rani.
“Mataku perih.”
“Serius?”
“Iya. Kayaknya dari tadi kena angin sama debu.”
Aku mencoba tetap menikmati konser. Sayang sekali kalau harus melewatkan penampilan penyanyi yang sudah kutunggu berbulan-bulan hanya karena mata terasa tidak nyaman. Tetapi semakin lama, rasanya semakin mengganggu. Aku bahkan mulai merasa malas membuka mata terlalu lebar. Padahal di depan sana, idola kami sedang menyanyikan lagu favoritku.
Duh, gimana ini, jangan sampai momen ini terlewat!
Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Eh! Tadikan aku bawa Insto!”
Rani langsung tertawa dan aku ikut tertawa.
Aku mengambil #InstoDryEyes dari dalam tas dan menggunakannya sesuai petunjuk pada kemasan. Setelah itu aku memejamkan mata sebentar. Beberapa saat kemudian, rasa tidak nyaman yang tadi muncul mulai mereda.
“Gimana?” Rani bertanya.
“Sudah lebih nyaman.”
“Syukurlah.” Katanya kemudian sambil tos denganku.
Aku masih bisa menikmati lagu-lagu berikutnya, ikut bernyanyi bersama teman-teman, dan tentu saja mengambil beberapa video untuk kenang-kenangan.
Ternyata Mata SePeLe Bisa Bikin Panik
Sepulang dari konser, kami masih membicarakan banyak hal. Mulai dari penampilan sang idol, lagu favorit, momen ketika seluruh penonton bernyanyi bersama sampai kejadian mataku tadi.
“Untung tadi kamu bawa Insto,” kata Rani.
“Iya. Tadinya kupikir cuma buat jaga-jaga aja ternyata bermanfaat juga.”
“Makanya, #MataSePeLeJanganSepelein,” kata Rani lagi.
Aku mengangguk.
Tapi kalau dipikir-pikir nih, memang benarkan? Selama ini kita sering menganggap Mata SEpet, kering, perih, lelah, sebagai gangguan kecil yang akan hilang sendiri. Padahal ketika muncul di waktu yang tidak tepat, seperti saat konser tadi, rasanya sudah pasti mengganggu.
Jadi, jangan pernah abaikan kalau merasakan gejalanya ya? Mata kita perlu mendapatkan perhatian. Apabila diabaikan bukan tak mungkin berakibat fatal ke depannya.
Sejak kejadian di konser, aku mulai lebih memperhatikan kondisi mata ketika melakukan aktivitas di luar ruangan. Aku membawa perlengkapan yang diperlukan, termasuk #InstoDryEyes, dan berusaha memberikan waktu istirahat untuk mata ketika terlalu lama melihat layar. Aku juga tidak lagi sembarangan mengucek mata ketika terasa tidak nyaman supaya bisa #BebasMataKering.










Posting Komentar