Sahur di rumah kami selalu berjalan dengan cara yang sederhana. Kami memang keluarga yang tidak ingin direpotkan oleh banyak hal, termasuk urusan makanan. Menu sahur idaman bagi kami bukanlah hidangan mewah atau menu yang harus berbeda setiap hari, melainkan apa saja yang tersedia dan telah disiapkan oleh Ibu sejak waktu berbuka. Biasanya, Ibu memasak menjelang magrib, lalu makanan itu disimpan rapi untuk dimakan kembali saat sahur.
Bagi sebagian orang, pola seperti ini mungkin terasa membosankan. Namun, anehnya, saya tidak pernah merasa jenuh. Sejak kecil, kami sudah terbiasa dengan menu yang itu-itu saja. Bukankah sesuatu yang dibiasakan akan menjadi kebiasaan? Dari situlah saya belajar bahwa segala kebaikan memang perlu dilatih sejak awal. Mungkin terasa berat pada mulanya, tetapi jika sudah terbiasa, semuanya akan mengalir dengan ringan tanpa banyak hambatan.
Kebiasaan sahur sederhana ini juga mengajarkan kami untuk tidak berlebihan. Sahur bukan tentang mencari makanan terenak, melainkan tentang menyiapkan tubuh agar kuat menjalani puasa seharian. Ada nilai kesyukuran di sana. Ketika makanan yang sama masih bisa dinikmati bersama keluarga, rasanya jauh lebih nikmat dibandingkan makan menu mahal sendirian.
Kembali bicara soal menu sahur idaman, saya paling senang jika Ibu memasak sayur kangkung. Banyak orang bilang kangkung bisa membuat mengantuk. Namun, bagi saya, hal itu tidak terasa sama sekali. Tumis kangkung justru menjadi menu favorit saya sejak dahulu. Ada rasa khas yang tidak bisa digantikan oleh masakan lain.
Yang lucu, saya justru tidak berselera jika disuguhi sayur kangkung dari rumah makan. Entah mengapa rasanya selalu berbeda. Tumis kangkung buatan Ibu memiliki aroma bawang putih yang pas, tingkat kematangan yang tepat, dan rasa sederhana yang membuat saya selalu ingin menambah nasi. Bahkan, saya harus mengantongi rasa malu jika adik-adik meneriaki saya ketika tutup dandang nasi berbunyi karena saya mengambil porsi lebih banyak dari biasanya.
Soal mitos kangkung membuat ngantuk, saya pernah membaca penjelasan dari Alodokter yang menyebutkan bahwa anggapan tersebut belum didukung bukti ilmiah. Rasa mengantuk setelah makan kangkung bisa jadi disebabkan oleh faktor lain, seperti makan terlalu banyak, kurang tidur, atau tubuh yang sudah kelelahan. Artinya, bukan kangkungnya yang membuat kita mengantuk, melainkan kebiasaan kita sendiri saat sahur.
Dari sini saya belajar bahwa menu sahur idaman tidak harus rumit. Yang penting adalah cukup bergizi, mudah disiapkan, dan bisa dinikmati dengan hati tenang. Tumis kangkung buatan Ibu bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal kenangan. Setiap suapan mengingatkan saya pada masa kecil, pada suara piring yang disusun tergesa-gesa menjelang imsak, dan pada wajah Ibu yang tetap tersenyum meski bangun lebih awal dari semua anggota keluarga.
Kini, ketika usia bertambah dan kesibukan semakin padat, saya semakin menyadari bahwa sahur bukan sekadar rutinitas makan sebelum puasa. Sahur adalah momen kebersamaan yang sering luput kita syukuri. Di meja makan sederhana itu, kami saling menyemangati untuk menjalani hari dengan sabar dan penuh harap.
Jadi, tidak apa-apa jika menu sahur idaman saya belum tergantikan dari tumis kangkung buatan Ibu. Justru di situlah letak istimewanya. Menu sederhana bisa menjadi luar biasa ketika disertai cinta dan kebiasaan baik.
Nah, bagaimana dengan Sobat? Apa menu sahur idaman Sobat selama Ramadan ini? Apakah masakan rumah, lauk sederhana, atau justru menu unik yang hanya muncul setahun sekali? Yuk, ceritakan menu sahur idaman Sobat! Siapa tahu bisa menjadi sumber inspirasi bagi Sobat lainnya untuk menikmati sahur dengan lebih bermakna.
#ChallengeMenulisIIDN



.png)






Posting Komentar